BMKG PERKUAT KETANGGUHAN DAERAH MELALUI SEKOLAH LAPANG TERPADU DI KABUPATEN WAJO

Friday, September 25, 2026 | 07:04 WIB Last Updated 2026-09-25T00:10:39Z


INFOVIRALSULAWESI.COM WAJO Jumat 25 September 2026, -
Kabupaten Wajo merupakan salah satu wilayah strategis di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki karakteristik lingkungan dan kondisi geografis yang beragam. Wilayah ini menghadapi berbagai potensi ancaman bencana hidrometeorologi maupun geologi yang dapat berdampak terhadap keselamatan masyarakat serta aktivitas sosial dan ekonomi. Variabilitas cuaca yang tinggi, perubahan iklim, serta potensi kejadian gempabumi menjadi tantangan yang perlu dipahami dan diantisipasi bersama oleh seluruh pemangku kepentingan pada Kamis (24/9/2026).

Edukasi mengenai gempa bumi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana disampaikan dalam kegiatan yang berlangsung di Aula/Ruang Pola Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Wajo, Jalan Rusa, Sengkang, Kecamatan Tempe, 

Dalam materi yang disampaikan, dijelaskan bahwa salah satu karakteristik gempa bumi adalah belum dapat diprediksi secara tepat. Gempa tektonik sendiri merupakan salah satu jenis gempa bumi yang disebabkan oleh patahnya lapisan bumi akibat adanya pergerakan lempeng bumi.

Materi tersebut juga menjelaskan sejumlah dampak ikutan yang dapat terjadi akibat gempa bumi besar, di antaranya tanah longsor, tsunami, likuifaksi, kebakaran, tanah terbelah, dan runtuhan batu.

Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai perbedaan magnitudo dan intensitas gempa bumi. Magnitudo merupakan skala besaran kekuatan gempa bumi pada sumbernya, sedangkan intensitas menggambarkan dampak atau guncangan yang dirasakan di suatu wilayah.

Dalam penyampaian materi, informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami dapat diterima melalui berbagai saluran, di antaranya Web BMKG, WRS BMKG, media elektronik, aplikasi InfoBMKG, media sosial BMKG, serta melalui BPBD/TNI/Polri.

BMKG juga disebut mengirimkan informasi awal mengenai parameter gempa bumi kepada stakeholder dan masyarakat dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi.

Adapun informasi dasar dalam produk informasi gempa bumi BMKG meliputi waktu terjadinya gempa, lokasi pusat gempa, magnitudo, dan kedalaman gempa.

Materi turut menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebelum gempa. Perabotan seperti lemari, cermin, dan perabotan gantung perlu dipasang dengan kuat, sementara benda-benda berat sebaiknya ditempatkan di rak bagian bawah untuk meminimalkan risiko cedera saat terjadi guncangan.

Sebagai daerah yang memiliki aktivitas perikanan, pertanian, dan permukiman yang cukup berkembang, masyarakat Kabupaten Wajo memerlukan akses terhadap informasi cuaca, iklim, dan kebencanaan geologi yang akurat serta mudah dipahami. Pemanfaatan informasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pengambilan keputusan, mengurangi risiko bencana, dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap berbagai ancaman yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan pelatihan menjadi langkah strategis yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemahaman yang baik mengenai informasi cuaca maritim, kondisi iklim, serta potensi gempabumi akan membantu masyarakat lebih siap dalam menghadapi risiko yang mungkin terjadi di wilayahnya.

PEMBUKAAN SEKOLAH LAPANG TERPADU BMKG 2026

Sebagai bentuk nyata komitmen dalam meningkatkan literasi kebencanaan dan ketahanan masyarakat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang Terpadu BMKG 2026 di Kabupaten Wajo pada tanggal 16 September 2026.

Mengusung tema “Kolaborasi Edukasi Cuaca Nelayan, Iklim, dan Gempabumi” Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Stasiun Meteorologi Maritim Untia, Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, dan Stasiun Geofisika Kelas II Gowa yang menghadirkan materi dari tiga bidang layanan utama BMKG, yaitu meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Sekolah Lapang Terpadu dirancang sebagai wadah pembelajaran yang mengintegrasikan pemahaman mengenai informasi cuaca untuk keselamatan pelayaran dan aktivitas nelayan, pemanfaatan informasi iklim untuk mendukung sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya alam, serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempabumi dan bencana terkait.

Kegiatan ini diikuti oleh unsur pemerintah daerah, BPBD, aparat keamanan, perangkat kecamatan dan desa, perwakilan sekolah, kelompok masyarakat, komunitas nelayan, media massa, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki peran penting dalam upaya pengurangan risiko bencana di Kabupaten Wajo.

PELAKSANAAN KEGIATAN

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai layanan informasi cuaca maritim yang disampaikan oleh Stasiun Meteorologi Maritim Untia. Pada sesi ini peserta memperoleh pemahaman mengenai potensi cuaca ekstrem di wilayah perairan, pemanfaatan informasi cuaca untuk keselamatan pelayaran, serta interpretasi produk informasi cuaca yang diterbitkan BMKG.

Selanjutnya, peserta mendapatkan materi dari Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan terkait kondisi iklim regional, fenomena variabilitas iklim, pemanfaatan informasi iklim untuk mendukung ketahanan pangan, serta strategi adaptasi terhadap perubahan iklim yang dapat diterapkan di tingkat daerah maupun masyarakat.

Materi geofisika yang disampaikan oleh Stasiun Geofisika Kelas II Gowa mencakup potensi gempabumi di Sulawesi Selatan, pemanfaatan produk informasi gempabumi BMKG, serta langkah-langkah kesiapsiagaan yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi gempabumi.

Selain sesi pemaparan materi dan diskusi, peserta juga mengikuti kegiatan Table Top Exercise (TTX) menggunakan system INATEX yang mensimulasikan skenario kejadian gempabumi kuat dan dampaknya terhadap wilayah Kabupaten Wajo dan sekitarnya. Melalui simulasi ini, peserta dilatih untuk memahami mekanisme koordinasi, komunikasi, serta pengambilan keputusan secara cepat dan tepat sesuai tugas dan fungsi masing-masing.

PENGUATAN SINERGI DAN KAPASITAS DAERAH

Penyelenggaraan Sekolah Lapang Terpadu BMKG menjadi salah satu upaya untuk memperkuat sinergi antara BMKG, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, aparat keamanan, media, dan masyarakat dalam membangun budaya sadar bencana serta meningkatkan pemanfaatan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan tiga bidang layanan BMKG, diharapkan peserta tidak hanya memahami karakteristik ancaman yang ada di wilayahnya, tetapi juga mampu menerapkan langkah-langkah mitigasi yang tepat guna mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan.

PENUTUP

BMKG berharap kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, Iklim, dan Gempa Bumi 2026 dapat menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan di Kabupaten Wajo. Melalui pemahaman yang lebih baik terhadap informasi cuaca, iklim, dan gempabumi, masyarakat diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bencana dan perubahan lingkungan yang terjadi.

Kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga teknis, dunia pendidikan, media, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan ketahanan daerah yang berkelanjutan. Dengan kesiapsiagaan yang terus ditingkatkan, risiko korban jiwa maupun kerugian ekonomi akibat bencana dapat diminimalkan.

Penulis Harry Goa

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • BMKG PERKUAT KETANGGUHAN DAERAH MELALUI SEKOLAH LAPANG TERPADU DI KABUPATEN WAJO

Trending Now

Iklan

iklan