INFOVIRALSULAWESI.COM
CERMIN HUSNIAH TALENRANG
Oleh : DR Andi Ade Lepu
Secara pribadi, saya tidak mengenal Husniah Talenrang. Seperti mungkin kebanyakan dari kita, saya tahu sosoknya dari media yang banyak tentangnya. Algoritma android kerap mengantarkan saya membaca beritanya. Jadinya saya cukup tahu peristiwa yang menderanya secara cukup kronologis.
Kita sudah tahu semua. Awalnya isu perselingkuhan, kemudian Pansus DPRD, rekomendasi pemakzulan, dan terakhir kemarin kita mendengar telah berstatus tersangka korupsi. Ujungnya adalah dinonaktifkan sebagai kepala daerah. Pisau hukum ternyata jauh lebih efektif dari pada menunggu keputusan Mendagri. Ini mirip yang melanda bupati Pati.
Saya memulai tulisan ini dengan ‘saya tidak saling kenal dengannya’. Untuk apa? Karena saya bermaksud membuat peristiwa Talenrang ini sebagai cermin di antara kita semua se-obyektif mungkin. Kita yang saya maksud adalah anggota DPRD yang memansuskannya, pandangan kita terhadap korupsi, nitizen, dan siapapun di antara kita yang pro atau kontra dengan kasusnya.
Pertama-tama adalah drama Husniah Talenrang ini mungkin ada baiknya kita akhiri dengan tepuk tangan sambil menyumpahi kemunafikan kolektif yang sering kita sembunyikan. Kita semua sibuk menghakimi Bupati Gowa karena diduga kuat berselingkuh dengan seorang lelaki berjuluk Ombas. Kita ramai men-share surat "Lampa Minjo Naung Kodong Suamiku", kita ketawakan tiket pesawatnya, kita ilustrasikan romansa Malino, kita tonton live Pansus DPRD layaknya sebuah sinetron sabun. Seolah kita adalah anggota Dewan Kehormatan Moral Negeri.
Padahal kalau mau jujur, boleh jadi anggota DPRD yang terhormat itu tidak sedang menegakkan moral, tapi sedang menegakkan ego dendam politik. Kenapa Pansus Hak Angket untuk kasus asusila bisa secepat kilat? Rapat sampai malam, saksi dipanggil, surat cinta jadi barang bukti negara, dan berbagai testimoni yang harusnya dilakukan secara tertutup?
Ironinya, kita belum pernah mendengar adanya Pansus korupsi pengadaan seragam sekolah, titipan anggaran bermasalah, perjalanan dinas nihil manfaat, atau mark-up proyek jalan? Kalaupun ada, palingan hanya RDP, ngopi, haha-hehe lalu setelah itu selesai. Pansus DPRD Kaltim untuk kebijakan Rudy Mas’ud misalnya, tak kita tahu ujungnya kini. Michel Foucault benar adanya, bahwa kekuasaan lebih suka menghukum tubuh dan seksualitas, karena itu adalah tontonan paling murah untuk menutupi dosa yang lebih mahal. Kita bisa melontarkan dugaan menohok bahwa anggota DPRD itu boleh jadi sedang membangun citra demi menutupi dosa-dosa yang lebih mahal dari sekadar selangkangan.
Saya dan siapa pun dari kita sepakat bahwa zina atau perselingkuhan adalah aib besar yang perlu kita jauhi. Tapi penolakan yang kita lakukan tetap haruslah berefek keluar dan juga ke dalam diri sendiri secara introspektif, lalu menutupinya serapat mungkin. Bukan mengobralnya bagai percakapan jelantah infotainment.
DPRD paham betul. Menghakimi selangkangan orang lain itu jauh lebih aman daripada mengaudit anggaran siluman dan pokir-pokir yang orientasinya adalah bancak proyek. Karena kalau yang kedua dibuka, jangan-jangan semua ikut telanjang. Kita semua tahu, syahwat kekuasaan di gedung sana juga ada dua jenis: syahwat ke lawan jenis, dan syahwat ke proyek bagi-bagi. Bedanya, yang pertama viral, yang kedua cair. Silakan searching berbagai kasus-kasus yang sering melanda anggota DPRD. Baik soal perzinahan maupun korupsi anggaran. Lebih telanjang dari yang kita duga.
Lalu kita di pemirsa paling bawah ini, yang sering disebut nitizen maha benar? Kita paling kencang teriak memberondong Husniah dengan kata-kata menohok yang kita tuliskan di kolom komentar. Padahal coba cek HP kita masing-masing. Berapa banyak di antara kita yang selingkuh tipis-tipis di DM? Nonton bokeb? Selingkuh chat mesra dari bukan pasangan, selingkuh dari jam kerja, selingkuh dari laporan keuangan tempat kerja, dan selingkuh lain di semua pengertian. Jangan-jangan kita benci Husniah bukan karena dia diduga selingkuh. Kita benci karena dia ketahuan. Dia melakukan apa yang diam-diam kita ingin lakukan tapi tidak punya peluang untuk memakai kekuasaan demi cinta syahwat terlarang.
Bedanya dia Bupati, jadi ada Pansus. Kita rakyat jelata, bebas saja karena lingkaran yang mengenal kita palingan cuma di grup WhatsApp keluarga.
Lalu, Bagaimana dengan Korupsinya?
Kita mungkin sudah sampai pada kesimpulan bahwa korupsi di negeri ini hanya soal kesempatan, peluang, dan juga nasib baik atau buruk. Nasibmu baik jika kamu tidak tertangkap. Nasibmu buruk jika sebaliknya. Wajar jika kita ketawa ketika pas dia jadi tersangka korupsi setelah kasus selingkuhnya meledak.
"Tuh kan, benar?!" Kita yang kontra langsung angkat suara besar, dan mengutuk nasib buruk Husniah yang karena ketiban sial tertangkap. Padahal tahukah kita filosofi korupsi di Indonesia itu sangat langka kejahatan individual, lebih banyak gotong-royong secara berjamaah. Husniah dituduh korupsi, memeras, atau melakukan pungli, tapi siapa yang membuka ruang negosiasi? Siapa pengusahanya dan kenapa mau setor? Betulkah diperas atau jangan-jangan merekalah yang mendesak untuk mendapatkan kemudahan privilege. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Seperti halnya perselingkuhan yang hanya orang gila yang setuju, demikian pula dengan korupsi. Kita semua menolaknya dan geram terhadapnya. Tapi siapa yang menciptakan sistem yang begini buruk? Siapa yang membuat aturan yang selalu dibuat celah untuk dimainkan? Dan kenapa negeri ini telah membudayakan korupsi? Dari kepala desa hingga presiden? Dari tenaga honor rendahan sampai pejabat eselon satu? Dan kepada nitizen pasaran, siapa kita yang dengan senyum sumringah menyodorkan uang rokok ke pak desa cuma untuk urus KTP? Siapa pula kita yang memilih Caleg atau calon kepala daerah karena disodori uang seratus ribu? Sadarkah kita bahwa itu adalah gerbang korupsi?
Kita semua adalah rantai makanan korupsi yang sama. Kita menjadi bagian dari sebuah ekosistem sosial yang rusak. Kita ada di sebuah lingkaran setan administrasi yang menjebak, pemerintahan yang tak becus, dan politisi yang hanya berpikir dengan perut. Husniah Talenrang tidak jatuh karena dia lebih bejat dari kita. Dia jatuh karena dia bejat dengan cara yang sama seperti kita, bedanya hanya karena dia melakukannya sambil duduk di kursi Bupati.
Pun DPRD memakzulkannya bukan berarti karena mereka lebih bersih. Tapi karena untuk sekali ini, mereka dapat kesempatan terlihat bersih dengan memanfaatkan kekotoran orang lain.
Dan kita menghujat Husniah bukan karena kita lebih suci. Tapi karena menghujat orang yang sedang jatuh adalah satu-satunya cara kita merasa masih seperti orang baik. Kita menyedihkan sekaligus hipokrit.
Pada akhirnya, di Kabupaten Gowa, di Kalimantan Timur, atau juga di Indonesia yang luas ini, tidak ada yang benar-benar termakzulkan secara moral. Yang ada bisa jadi hanya syahwat yang berganti pemain. Karena pada dasarnya kita semua potensial menjadi Husniah atau pun Ombas. Bergantung bagaimana kita mengambil pelajaran dari kejadian yang menghentak kita itu.
Hari ini, kitab itu bernama Husniah Talenrang. Mari membacanya dan mengambil hikmah sebanyak mungkin.
